Jakarta – Pada 28 Februari, Amerika Serikat meluncurkan operasi militer bernama "Operation Epic Fury" di wilayah Iran.
Dalam satu minggu pertama setelahnya, AS melakukan ribuan serangan yang menargetkan berbagai titik di Iran dengan lebih dari dua puluh sistem persenjataan berbasis udara, darat, dan laut.
Serangan ini dilakukan sebagai bagian dari gelombang pertama operasi gabungan antara Amerika Serikat dan Israel. Dalam peristiwa tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa konflik dapat berlangsung empat hingga lima minggu, namun ia menegaskan bahwa kemampuan militer AS mampu bertahan jauh lebih lama.
Kebijakan ini menunjukkan keyakinan tinggi pemerintah Trump terhadap kapasitas pertahanan dan penyerangan militer AS.
—DataBicara: Perkiraan durasi konflik mengandalkan kemampuan logistik dan dukungan internasional, namun tetap bergantung pada dinamika politik regional.
