Jakarta – Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pandangan Indonesia tentang dinamika ekonomi global saat Asian Leaders Roundtable di Tokyo Conference 2026, Tokyo. Ia menekankan pentingnya memperkuat kerja sama regional di Asia.
Airlangga mengatakan tatanan global kini berubah signifikan: politik berbasis kekuatan, proteksionisme, dan kepercayaan terhadap sistem multilateralisme menurun. Hal ini tercermin lewat keterbatasan kemajuan WTO dalam menangani isu perdagangan digital dan ketahanan rantai pasok, serta kecenderungan negara-negara beralih unilateral atau bilateral.
Ia juga mengamati bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat‑Israel dengan Iran memberi tekanan pada stabilitas ekonomi global. Lonjakan harga minyak dunia melewati USD 100 per barel, dan potensi gangguan jalur energi melalui Selat Hormuz menambah ketidakpastian.
Menyikapi situasi ini, Pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional sesuai arahan Presiden untuk percepatan energi berbasis sumber daya domestik. Saat ini, Indonesia sudah melaksanakan program Biodiesel B40 dan menargetkan transisi ke B50.
Pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol lewat program E10 yang akan dipercepat menuju E20. Di bidang energi terbarukan, Indonesia mempersiapkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga sekitar 800 gigawatt sebagai bagian strategi jangka panjang memperkuat transisi energi dan kemandirian nasional.
