Jakarta – Teknologi deepfake kini dapat memproduksi rekonstruksi wajah dan suara orang yang sudah meninggal, sehingga menciptakan ilusi ‘kehidupan’ kembali. Metode ini mengumpulkan jejak digital manusia selama hidupnya dari email, media sosial, aplikasi kerja, belanja, hingga pencarian informasi online.
Keberhasilan deepfake didukung oleh machine learning yang memetakan pola komunikasi tersebut ke dalam algoritma. Hasilnya adalah model AI yang dapat menirukan perilaku dan gaya bicara orang bersangkutan.
Menurut Paul Watzlawick (1967), manusia selalu berkomunikasi bahkan saat diam, sehingga kemampuan ini dianggap syarat penting untuk tetap menjadi manusia. Deepfake mencoba memenuhi kriteria tersebut dengan mereproduksi interaksi digital seseorang.
Meskipun teknologi ini membuka kemungkinan baru dalam memori digital dan rekreasi sejarah, masih belum jelas bagaimana etika dan regulasi akan mengatur penggunaan rekonstruksi semacam ini.
