Jakarta – Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat penentuan hari raya Idul Fitri pada 19 Maret 2026. Sidang ini menilai keberadaan hilal untuk memulai bulan Syawal 1447 H.
BMKG merilis dokumen ‘Informasi Prakiraan Hilal saat Matahari Terbenam Tanggal 19 Maret 2026 Penentu Awal Bulan Syawal 1447 H’ pada Senin, 9 Maret 2026. Konjungsi geosentrik diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01:23:23 UT (08:23:23 WIB).
Menurut BMKG, periode sinodis bulan antara konjungsi sebelumnya dan konjungsi yang akan datang adalah 19 hari 13 jam 22 menit. Konjungsi tersebut terjadi sebelum matahari terbenam pada 19 Maret di seluruh wilayah Indonesia.
Prakiraan posisi hilal menunjukkan ketinggian Hilal di Indonesia saat matahari terbenam berkisar antara 0,91 derajat (Merauke, Papua) hingga 3,13 derajat (Sabang, Aceh). Elongasi geosentrisnya berada antara 4,54 derajat (Waris, Papua) dan 6,1 derajat (Banda Aceh, Aceh). Umur bulan—selisih waktu terbenam matahari dengan konjungsi—berkisar antara 7,41 jam (Waris) hingga 10,44 jam (Banda Aceh).
BMKG juga mencatat potensi objek astronomis lain: dari matahari terbenam hingga bulan terbenam, Saturnus berada kurang dari 10 derajat sudut dari bulan.
Sidang isbat melibatkan representasi luas umat Islam di Indonesia, termasuk ormas NU, Muhammadiyah, PERSIS, Al‑Irsyad Al‑Islamiyyah, Hidayatullah, dan Persatuan Umat Islam (PUI), serta pakar falak dan astronomi dari BMKG, BRIN, Planetarium, dan observatorium.
Indonesia menggunakan kriteria penentuan hilal yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura (MABIMS). Kriteria MABIMS menganggap hilal memenuhi syarat bila ketinggiannya mencapai 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
