Jakarta – Rusia diduga menyampaikan intelijen kepada Iran yang dapat dipakai melancarkan serangan terhadap target militer Amerika di Timur Tengah, menurut dua pejabat anonim yang dilaporkan oleh Euronews pada Sabtu (7/3).
Sumber tersebut juga dikutip dalam The Washington Post, menegaskan bahwa informasi tersebut berpotensi digunakan Iran untuk menyerang kapal perang, pesawat dan aset militer AS lainnya di kawasan Teluk.
Pihak intelijen Amerika belum menemukan bukti bahwa Moskow secara langsung mengarahkan Iran tentang cara menggunakan data tersebut.
Jika terbukti, hal ini akan menjadi indikasi pertama keterlibatan Rusia secara tidak langsung dalam konflik yang dimulai setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sepekan lalu.
Kremlin menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada permintaan dari Iran untuk bantuan senjata, dan menolak klaim Moskow sedang memasok persenjataan ke negara tersebut.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan pada Kamis (5/3) bahwa "posisi konsisten kami sudah diketahui semua orang" dan tetap tidak berubah.
Rusia memang menjadi mitra dekat Iran di Timur Tengah, dengan kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada 2025 yang mencakup kerja sama menghadapi ancaman bersama, namun tidak mengikat pertahanan seperti pakta keamanan Rusia‑Korea Utara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kerja sama militer antara kedua negara bukan rahasia dan akan terus berlanjut di masa depan.
