Jakarta – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Indonesia, Eddy Soeparno, menegaskan pentingnya kewaspadaan pemerintah terhadap potensi dampak konflik di Timur Tengah pada pasokan migas negara.
Eddy mengingatkan bahwa saat ini Indonesia mengimpor 20 persen kebutuhan migasnya dari wilayah tersebut. Sisanya berasal dari Nigeria, Angola, Australia, dan Brazil. Ia menilai bahwa Indonesia sudah dapat meningkatkan suplai migas dengan memanfaatkan sumber luar Timur Tengah bila terjadi gangguan.
Namun ia juga menyoroti risiko tambahan terkait negara-negara seperti Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki volume impor migas lebih besar daripada Indonesia, baik secara absolut maupun dari sumber Timur Tengah.
Peringatan tersebut ditujukan kepada Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Pertamina agar memperkuat strategi diversifikasi pasokan guna mengurangi ketergantungan pada jalur selat Hormuz.
—DataBicara: Peningkatan diversifikasi impor migas dapat menstabilkan harga domestik dan meminimalkan dampak geopolitik.
