Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak takut jika Amerika Serikat dan Israel melakukan invasi darat. Ia mengungkapkan hal itu dalam wawancara eksklusif dengan NBC News di Teheran pada 5 Maret 2026.
Araghchi menyatakan kesiapan Iran menghadapi agresi AS-Israel, menolak anggapan bahwa negara tersebut akan merasa takut. Ia juga menegaskan bahwa invasi darat akan menjadi bencana besar bagi Amerika.
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Araghchi menegaskan bahwa Iran belum meminta gencatan senjata dan tetap berkomitmen untuk melawan.
Ia juga mengkritik serangan AS-Israel terhadap Sekolah Dasar di Minab yang menewaskan 171 anak, menyalahkan militer AS dan Israel atas tindakan tersebut. Araghchi menolak melakukan negosiasi dengan AS karena dugaan pengkhianatan berulang.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menganggap invasi darat ke Iran sebagai "buang-buang waktu". Ia mengklaim bahwa Iran telah kehilangan semua kekuatan mereka dan menyatakan keinginannya untuk menggantikan kepemimpinan Iran dengan pemimpin baru.
Trump menambahkan bahwa ia memiliki usulan bagi pemimpin Iran berikutnya, namun tidak menyebutkan nama siapa pun. Ia juga menyatakan akan terlibat dalam penunjukan pemimpin Iran setelah serangan AS-Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
