Jakarta – Dunia kini terobsesi pada istilah “pintar” dalam segala bentuk, mulai dari ponsel pintar hingga kecerdasan buatan. Di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan eksistensial: apakah akal manusia sedang berevolusi atau justru mengalami peluruhan menjadi replika mesin.
Kecerdasan pada mesin sebenarnya adalah akal imitasi. Ia bekerja berdasarkan statistik, probabilitas, dan data masa lalu untuk menyusun kata, melukis gambar, hingga menulis kode pemrograman dalam hitungan detik. Meski cepat, ia tidak memiliki kesadaran, kegelisahan, atau tanggung jawab moral.
Meskipun demikian, banyak orang menemukan manfaat psikologis ketika berinteraksi dengan chat‑JBT. Seorang pengguna melaporkan merasa "nyaman" curhat kepada mesin karena tidak dihakimi atas perasaannya.
