Jakarta – Pada 28 Februari 2026, langit Teheran dibelah lebih dari seribu bom dalam operasi militer gabungan bernama Operation Roaring Lion dan Operation Epic Fury. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat tembakan tersebut.
Setelah peristiwa itu, Iran membalas dengan gelombang rudal balistik dan drone ke lima negara di kawasan Teluk. Dalam hitungan jam, situasi regional beralih menjadi fase paling berbahaya dari sebuah konflik yang masih memiliki jalan keluar jika semua pihak bersedia mengambil langkah diplomatik.
Perang ini tidak terjadi secara tiba-tiba; ia berkembang secara bertahap akibat kegagalan diplomasi. Dampaknya menimpa kemanusiaan, perekonomian global, jalur perdagangan dunia, dan stabilitas tatanan internasional, menunjukkan bahwa perang bukan solusi.
Kejadian pecah hanya sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat “sudah dalam jangkauan” di meja perundingan Jenewa. Mediator Oman melaporkan adanya negosiasi tengah yang menjanjikan mengenai pengayaan uranium dan keamanan Teheran, namun momentum itu runtuh ketika bom dijatuhkan.
