Jakarta – Israel melancarkan serangan udara terhadap posisi Hizbullah di Beirut dan selatan Lebanon dalam beberapa hari terakhir, lalu pasukan infanteri dikabarkan memasuki wilayah tersebut. Operasi ini dianggap respons atas serangan milisi Syiah yang menargetkan Israel pada Minggu (1/3) malam hingga Senin (2/3).
Hizbullah menanggapi serangan udara AS‑Israel dengan menyerang utara Israel menggunakan roket dan drone, memperlihatkan eskalasi di wilayah tersebut.
Konflik ini menjadi bagian dari ketegangan regional yang lebih luas, di mana Israel tidak hanya bereaksi terhadap serangan milisi tetapi juga berupaya melemahkan Hizbullah, menstabilkan perbatasan utara, dan membatasi pengaruh Iran di kawasan itu.
Israel memandang Hizbullah sebagai ancaman terbesar bagi keamanan nasionalnya. Milisi yang dipimpin oleh Naim Qassem dikenal memiliki depot amunisi roket besar serta struktur militer yang kuat di wilayah selatan Lebanon.
Sementara itu, pihak Hizbullah berpendapat bahwa serangan Israel merupakan tindakan agresi yang tidak dapat diterima. Kedua belah pihak menegaskan posisi mereka secara tegas, meningkatkan ketidakpastian keamanan regional.
—DataBicara: Konflik ini memperlihatkan dinamika kekuatan militer di wilayah Teluk Mediterania dan memicu pertanyaan tentang stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut.
