Kapal fregat IRIS Dena tenggelam pada Kamis (5 Maret 2026) setelah diserang torpedo kapal selam Amerika Serikat di perairan internasional lepas pantai Sri Lanka. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengkritik serangan tersebut sebagai "kekejaman" dan menegaskan bahwa Washington akan sangat menyesali tindakan itu.
Araghchi menyatakan serangan terjadi sekitar 2.000 mil dari pantai Iran tanpa peringatan sebelumnya. Ia memperingatkan potensi preseden bagi kebijakan AS di laut internasional.
Kapal selam AS, yang dikonfirmasi oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth, menenggelamkan Dena dengan torpedo, mengklaim ini sebagai "kematian senyap" pertama sejak Perang Dunia II. Kapal tersebut sedang berlayar setelah latihan di Visakhapatnam, India.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka melaporkan bahwa kapal Iran mengirim panggilan darurat pada fajar; 87 jenazah telah evakuasi, sementara minimal 61 personel masih hilang. Penyelamatan sedang berlangsung untuk korban yang tersisa.
Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, menyatakan 32 personel diselamatkan dan kini dirawat di Galle.
—DataBicara: Serangan ini menegaskan ketegangan strategis antara Iran dan AS serta potensi dampak pada stabilitas keamanan maritim di Samudra Hindia.
