Prancis mengirimkan kapal induk Charles de Gaulle dan fregat pendukungnya ke Mediterania untuk menanggapi ketidakstabilan di Timur Tengah. Presiden Emmanuel Macron memerintahkan operasi ini pada Rabu (4/3) setelah serangan pada pangkalan udara Inggris di Siprus Senin (2/3).
Kapal induk Charles de Gaulle dan aset udaranya akan berlayar ke Mediterania, termasuk jet tempur Rafale, sistem pertahanan udara, dan radar. Macron menegaskan bahwa Prancis akan meningkatkan postur pertahanan untuk melindungi warga negara dan pangkalan di kawasan tersebut.
Sementara itu, Languedoc, fregat Prancis, dijadwalkan tiba di lepas pantai Siprus pada malam hari Selasa (3/3). Langkah ini merupakan bagian dari dukungan terhadap Siprus yang baru saja menandatangani kemitraan strategis dengan Prancis.
Macron juga menyebutkan niat Prancis untuk menambah jumlah hulu ledak nuklir, menjadikan negara tersebut satu-satunya di Uni Eropa yang memegang senjata nuklir. Saat ini, Prancis memiliki sekitar 290 hulu ledak dan empat kapal selam bersenjata nuklir.
Prancis berencana memperluas doktrin nuklirnya melalui kerja sama dengan Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, dan Denmark. Sejak terakhir kali menambah senjata nuklir pada 1992, Prancis tetap menjadi kekuatan nuklir keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina.
