Jakarta – Di beberapa tahun terakhir, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering muncul dalam rapat perusahaan Indonesia.
ESG tidak lagi menjadi topik eksklusif forum global; kini ia masuk ke laporan tahunan, presentasi investor, dan materi komunikasi publik.
Bursa Efek Indonesia mendorong integrasi aspek keberlanjutan, OJK memperkuat kewajiban pelaporan, dan perusahaan-perusahaan besar berlomba menyatakan komitmen net‑zero atau dekarbonisasi.
Namun di tengah intensitas itu, muncul pertanyaan yang jarang diucapkan dengan jujur: apakah publik mulai lelah dengan ESG?
