Jakarta – Pada akhir Februari 2026, serangan udara berskala besar diluncurkan oleh Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dan Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menargetkan infrastruktur militer Iran. Operasi tersebut mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Insiden ini menjadi peristiwa militer sekaligus pembunuhan politik tingkat tinggi yang memicu eskalasi ketegangan di kawasan Teluk serta gangguan ke seluruh dunia. Respons komunitas internasional terbagi antara kesiapan perang terbuka dan upaya diplomasi.
Di dalam negeri, kematian Khamenei menimbulkan kekosongan pada puncak pimpinan spiritual dan politik tertinggi Iran. Pemerintah Iran segera membentuk mekanisme transisi untuk menjaga stabilitas negara.
Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, serta perwakilan Dewan Garda (Guardian Council) ditunjuk untuk mengawasi roda pemerintahan dan memastikan kelangsungan administrasi selama krisis.
