Di konferensi di Jenewa pada Jumat (6/2), Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata Thomas DiNanno menuduh pemerintah China melakukan uji coba ledakan nuklir secara diam-diam dan merencanakan uji coba lebih lanjut dengan daya ledak ratusan ton. Ia menyebut tuduhan ini sebagai pelanggaran terhadap larangan uji coba nuklir internasional.
DiNanno mengutip data bahwa China telah melaksanakan satu uji coba nuklir pada 22 Juni 2020, dan menyatakan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) berusaha menyembunyikan aktivitas tersebut dengan teknik ādecouplingā untuk meminimalisir deteksi seismik. Ia menekankan bahwa China sengaja mengaburkan ledakan karena mengetahui pelanggaran komitmen.
Sementara itu, AS menyerukan perundingan tiga pihak yang melibatkan Rusia dan China guna menetapkan batasan baru pada senjata nuklir setelah berakhirnya New START pada 5 Februari. DiNanno menegaskan bahwa persenjataan nuklir China tidak memiliki batasan, transparansi, atau kontrol.
China menolak partisipasi dalam negosiasi perlucutan senjata. Duta Besar China Shen Jian menyatakan bahwa kemampuan nuklir China ātidak mendekatiā level AS atau Rusia dan tidak akan berpartisipasi pada tahap ini.
Duta Besar Rusia Gennady Gatilov mengusulkan melibatkan negara bersenjata nuklir lainnya, seperti Prancis dan Inggris, dalam perundingan baru. Pada saat itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebutkan kemungkinan uji coba senjata nuklir āatas dasar kesetaraanā dengan Rusia dan China pada 31 Oktober tahun lalu.
āDataBicara: Tuduhan ini menambah ketegangan di panggung internasional, sementara upaya multilateral baru tampak sulit terwujud karena penolakan partisipasi China.
