Peristiwa gempa di daerah perbatasan Thailand-Kamboja, sejak gencaran senjata berakhir pada 27 Desember 2025, terkait dengan perang yang berlangsung selama bertahun-tahun. Licadho (kelompok hak asasi manusia) mengklaim bahwa pasukan Thailand menghancurkan rumah-rumah warga Kamboja di dua desa di provinsi Banteay Meanchey, setelah gencatan senjata.,Konflik ini berlangsung sejak 1960-an, dengan tiga minggu pertempuran yang dimulai pada Desember 2025, di mana pasukan Thailand menewaskan puluhan orang dan mengungsi sekitar satu juta warga. Kedua negara sepakat mengakhiri konflik, tetapi perbatasan masih sengketa.,Thai mengklaim pasukannya hadir di wilayah yang selalu menjadi milik Thailand, sementara Kamboja menuntut penarikan pasukan dari wilayah yang dikuasai. Licadho mengkritik pembersihan pasca-gencatan senjata sebagai pelanggaran konvensi Jenewa dan hukum hak asasi manusia, terlepas dari sisi perbatasan.,Pembakaran rumah di tanah yang diakui oleh kedua belah pihak diangkat oleh satelit Sentinel-2, serta gambar rekaman dari media. Licadho menegaskan tindakan tersebut tidak memiliki tujuan militer yang sah, meski terjadi di daerah sengketa.,Pertukaran informasi terkait peristiwa ini melalui kantor berita AFP, dengan pihak Kamboja mengklaim tindakan teror di wilayah yang diakui sebagai milik Thailand. Tindakan ini memicu perdebatan tentang keadilan dan hukum internasional.,Analisis: Peristiwa ini menunjukkan keterlibatan pihak ketertinggalan dalam konflik sengketa, dengan pihak Thailand menolak menegakkan kembali ketentuan hukum internasional. Tindakan yang dianggap pelanggaran hukum hak asasi manusia menjadi kunci analisis.
2026-01-20T11:17:00.000Z
Perang di Perbatasan Thailand-Kamboja: Korban Meninggal dan Mengungsi

Artikel Terkait
Tidak ada artikel terkait.