DB
Data Bicara
2026-01-20T09:24:00.000Z

BMKG Umumkan Kondisi Cuaca Saat Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Sulsel: Ada Awan Cumulonimbus

BMKG Umumkan Kondisi Cuaca Saat Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Sulsel: Ada Awan Cumulonimbus

Jakarta - Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan kondisi cuaca saat pesawat ATR 42-500 jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 20 Januari 2026. BMKG menyebutkan saat pendaratan, angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 13 knot di Bandara Sultan Hasanuddin.,METAR Bandara Adisutjipto mencatat angin 4 knot, jarak pandang 6 km, tekanan udara dan suhu normal. Di Bandara Sultan Hasanuddin, cuaca berupa hujan sesaat di area bandara dengan awan kumulonimbus 1-2 oktas pada ketinggian 1.700-1.800 ft. BMKG menekankan bahwa kondisi cuaca relatif aman untuk pendaratan, tetapi area pendekatan harus diwaspadai awan kumulonimbus.,Pada 17 Januari 2026, BMKG menunjukkan citra satelit Himawari IR Enhanced menunjukkan suhu puncak di lokasi kejadian berkisar -48°C hingga 21°C, menunjukkan keberadaan awan tinggi tebal. DPR Komisi V mempertanyakan letak bandara di tepi laut dan kekhawatiran terkait jarak pandang 9 km saat pesawat melewati lapisan awan kumulonimbus di ketinggian 1.700-1.800 ft.,BMKG menjelaskan pesawat ATR 42-500 berada di ketinggian jelajah 6.500 ft sebelum pendaratan. Pada fase pendekatan, pesawat harus melewati awan kumulonimbus di ketinggian 1.700-1.800 ft. Jarak pandang di bandara bersih, tetapi kondisi approach memengaruhi visibilitas.,Analisis DataBicara: BMKG mengungkap keberadaan awan kumulonimbus di area pendekatan pendaratan Bandara Sultan Hasanuddin, meski jarak pandang 9 km terlihat aman. Kebijakan penerbangan harus mempertimbangkan letak bandara di tepi laut dan ketinggian awan yang memungkinkan pendaratan dengan risiko terkait posisi awan di area rendah.

Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait.