Akhir 2025, Indonesia menghadapi krisis lingkungan yang menyentak, diawali dengan 1.135 korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana menyerbu 52 kabupaten, merusak 157.838 rumah, dan merusak 157.838 rumah, serta menghancurkan 157.838 rumah, serta menghancurkan ratusan fasilitas umum. Data BNPB menunjukkan krisis ekologis tidak lagi sektoral, tetapi mencakup wilayah hulu dan perkotaan. Pemerintah menerapkan status darurat dan mempercepat pembangunan hunian sementara, tetapi penanganan harus berlanjut dengan evaluasi tata kelola lingkungan. Di pusat urban, kualitas udara terburuk di Asia Tenggara terjadi akibat emisi transportasi dan pembangkit listrik berbasis fosil. Kualitas udara membaik di Desember 2025, tetapi ketergantungan pada bahan bakar fosil memperkuat isu kebijakan polusi yang tidak berkelanjutan. Evaluasi dampak lingkungan di Sumatera akan dilaksanakan pada Maret 2026, asalkan diikuti kebijakan korektif tegas.
2026-01-01T02:05:00.000Z
Indonesia Berhadapan dengan Krisis Ekologis Sistemik

Artikel Terkait
Tidak ada artikel terkait.